🐺 Selain Sebagai Sentra Industri Gerabah Kasongan Juga Merupakan Salah Satu

MengenalKawasan Sentra Produksi yang Menghidupkan Ekonomi. Nisa Destiana. 25 Jun 2021. Saat berkunjung ke daerah tertentu, kamu mungkin menemukan daerah yang disebut-sebut sebagai sentra produksi. Misalnya, ketika berkunjung ke Yogyakarta, kamu bisa menemukan sentra produk gerabah di Kasongan atau sentra produk gudeg di Wijilan dan Caturtunggal. Abstract Kota Malang sebagai kota terbesar kedua Jawa Timur, memiliki sejarah panjang, sejak jaman prasejarah. Kota Malang memiliki banyak artefak peninggalan masa lampau yang masih dapat Dewasaini penggunaan kayu bakar tidak hanya untuk kepentingan rumah tangga tapi juga industri seperti industri gerabah Kasongan. Kayu bakar merupakan salah satu sumber energi altematif pengganti minyak bumi yang harganya semakin mahal. 10.0 selain itu dibantu juga dengan software Microsoft Excel. Hasil penelitian dan perhitungan SENTRAKERAJINAN GERABAH KASONGAN, YOGYAKARTA Alamat: Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Kasongan merupakan pusat industri gerabah di Bantul. Kawasan ini dikenal sebagai pemukiman pembuat barang-barang kerajinan dari tanah liat atau lempung. Awalnya masyarakat Desa Kasongan hanya membuat peralatan untuk keperluan rumah tangga. DesaKasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah.Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku.Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan Kasongantelah dikenal sebagai Desa Tembikar setidaknya sejak tahun 1675. Dan saat ini, Desa Kasongan adalah rumah bagi 582 bisnis tembikar yang mempekerjakan lebih dari 2.300 orang. Kerajinan gerabah dengan berbagai motif dan bentuk modern serta artistik, dan kerajinan lainnya, adalah daya tarik utama Desa Kasongan saat ini. DiDaerah Istimewa Yogyakarta, sentra industri kerajinankeramik/gerabah paling besar terletak di Desa Kasongan, Kabupaten Bantul.Sebagian besar penduduknya memang bermata pencahariansebagai pengrajin keramik, dan telah menghasilkan berbagai macamproduk mulai dari guci, jambangan, vas bunga, patung hewan, 15Kasongan merupakan daerah sentra kerajinan gerabah di yogyakarta apa makna kata tersebut? Desa Wisata Kasongan Salah satu patung yang legendaris di Desa Kasongan adalah patung Loro Blonyo. vas bunga, patung mini, asbak, dan pigura foto. Selain itu banyak juga keramik berukuran kecil yang banyak digunakan oleh penyelenggara hajat qQPbxe. Gerbang masuk daerah Kasongan foto ©2007 arie saksono Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta. Desa Kasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah. Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat atau tanah lempung. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku. Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi wadah air minum, kendil wadah untuk memasak, gentong wadah air, anglo kompor – tempat pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak, dan sejenisnya. Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini pembuatan gerabah tidak hanya terbatas pada perabotan rumah tangga saja, namun juga barang-barang lain sejenis yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Asal usul daerah Kasongan menjadi sentra industri gerabah Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain. Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin keramik untuk perabot dapur dan mainan hingga kini. Kesibukan sehari-hari warga Kasongan foto ©2007 arie saksono Proses pembakaran tradisional dengan bahan bakar sabut kelapa foto ©2007 arie saksono Proses Pembuatan Pada dasarnya proses pembuatan gerabah dibagi dalam dua bagian besar, yakni dengan cara cetak untuk pembuatan dalam jumlah banyak masal atau langsung dengan tangan. Untuk proses pembuatan dengan menggunakan tangan pada keramik yang berbentuk silinder jambangan, pot, guci, dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit tanah liat diatas tempat yang bisa diputar. Salah satu tangan pengrajin akan berada disisi dalam sementara yang lainnya berada diluar. Dengan memutar alas tersebut, otomatis tanah yang ada diatas akan membentuk silinder dengan besaran diameter dan ketebalan yang diatur melalui proses penekanan dan penarikan tanah yang ada pada kedua telapak tangan pengrajin. Pembuatan gerabah atau keramik, mulai dari proses penggilingan, pembentukan bahan dengan menggunakan perbot, hingga penjemuran produk biasanya memakan waktu 2-4 hari. Produk yang telah dijemur itu kemudian dibakar, sebelum akhirnya proses finishing dengan menggunakan cat tembok atau cat genteng. Sebuah galeri di Kasongan biasanya merupakan usaha keluarga yang diwariskan secara turun temurun, mereka bekerja secara kolektif. Sekarang pembuatan keramik melibatkan tetangga sekitar tempat tinggal pemilik galeri, namun pihak keluarga tetap bertanggung jawab untuk pemilihan bahan dan pengawasan produksi. Keramik Desain Modern Pada awalnya keramik ini tidak memiliki corak desain sama sekali. Namun legenda matinya seekor kuda telah menginspirasi para pengrajin untuk memunculkan motif kuda pada banyak produk, terutama kuda-kuda pengangkut gerabah atau gendeng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, selain dari motif katak, ayam jago dan gajah. Perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh modern dan budaya luar melalui berbagai media telah membawa perubahan di Kasongan. Setelah kawasan Kasongan pertama kali diperkenalkan oleh Sapto Hudoyo sekitar 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil serta dalam skala besar dikomersilkan oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an, kini wisatawan dapat menjumpai berbagai aneka motif pada keramik. Bahkan wisatawan dapat memesan jenis motif menurut keinginan seperti burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya. Kerajinan gerabah yang dijual di desa Kasongan bervariasi, mulai dari barang-barang unik ukuran kecil untuk souvenir biasanya untuk souvenir pengantin, hiasan, pot untuk tanaman, interior lampu hias, patung, furniture, etc, meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya. Bahkan dalam perkembangannya, produk desa wisata ini juga bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya. Hasil produksi gerabah Kasongan di masa sekarang sudah mencakup banyak jenis. Tidak lagi terbatas pada perabotan dapur saja kendil, kuali, pengaron, dandang, dan lainnya serta mainan anak-anak alat bunyi-bunyian, katak, celengan. Di kawasan Kasongan akan terlihat galeri-galeri keramik di sepanjang jalan yang menjual berbagai barang hiasan dan souvenir. Bentuk dan fungsinya pun sudah beraneka ragam, mulai dari asbak rokok kecil atau pot dan vas bunga yang berukuran besar, mencapai bahu orang dewasa. Barang hias pun tidak hanya yang memiliki fungsi, tetapi juga barang-barang hiasan dekorasi serta souvenir perkawinan. Pengepakan kerajinan buatan warga Kasongan siap ekspor foto ©2007 arie saksono Salah satu produk yang cukup terkenal adalah sepasang patung pengantin dalam posisi duduk berdampingan. Patung ini dikenal dengan nama Loro Blonyo. Patung ini diadopsi dari sepasang patung pengantin milik Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Jawa, Loro berarti dua atau sepasang, sementara Blonyo berarti dirias melalui prosesi pemandian dan didandani. Namun demikian makna sebenarnya akan Loro Blonyo masih menjadi pertanyaan para pekerja di Kasongan. Kepercayaan patung Loro Blonyo akan membawa keberuntungan dan membuat kehidupan rumah tangga langgeng bila diletakkan di dalam rumah membawa pengaruh positif terhadap penjualan sepasang patung keramik ini. foto ©2007 arie saksono Wisatawan manca negara yang menyukai model patung Loro Blonyo, memesan khusus dengan berbagai bentuk seperti penari, pemain gitar, peragawati dan lain sebagainya. Pakaiannya pun tidak lagi memakai adat Jawa, selain mengadopsi pakaian khas beberapa negara, yang paling banyak memakai motif Bali dan Thailand, bahkan patung prajurit teracota dapat dijumpai di sini. Beberapa galeri keramik sekarang telah menjual sepasang patung unik ini yang terus diproduksi dengan beberapa bentuk dan model yang berbeda-beda. Wisata Desa Kasongan Di masa sekarang pengunjung dapat menjumpai berbagai produk kerajinan tangan selain gerabah. Pendatang yang membuka galeri di Kasongan turut mempengaruhi berkembangnya jenis usaha kerajinan di sini. Produk yang dijual masih termasuk kerajinan lokal seperti kerajinan kayu kelapa, kerajinan tumbuhan yang dikeringkan atau kerajinan kerang. Usaha kerajinan Kasongan berkembang mengikuti arus dan peluang yang ada. Namun demikian kerajinan gerabah tetap menjadi tonggak utama mata pencaharian warga setempat. Kerajinan keramik dengan berbagai bentuk dan motif yang modern bahkan artistik, dan berbagai kerajinan lainnya sebagai tambahan adalah daya tarik Kasongan hingga saat ini. Kasongan kini telah menjadi tempat wisata yang menarik dengan barang indah hasil keahlian penduduk setempat mengolah tanah liat. ©2007 arie saksono This entry was posted on Monday, April 13th, 2009 at 1350 and is filed under Antropologi, Budaya, Guide service, Historie, Indonesia, Jakarta Guide Service, Liburan, News, Nusantara, Orang Indonesia, Pariwisata, Sejarah, Seni, Suku, Tourism, tourism service, travel, Wisata, Yogyakarta. You can follow any responses to this entry through the RSS feed. You can leave a response, or trackback from your own site. Post navigation Previous Post Next Post » Kasongan Sentra Kerajinan Gerabah Kabupaten Bantul dikenal sebagai pusat kerajinan di Provinsi Yogyakarta. Banyak UKM-UKM di Bantul yang bergerak di bidang kerajinan. Salah satu yang menjadi ikon hasil kerajinan kabupaten Bantul adalah gerabah yang sentranya berada di Kasongan. Kasongan merupakan suatu sentra industri kerajinan gerabah/keramik yang saat ini sudah merupakan asset daerah, dengan pangsa pasar telah merambah ke pasar eksport. Kasongan merupakan desa wisata, tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestic, tetapi juga wisatawan mancanegara. Sebagai kawasan wisata kerajinan tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai bagi kepentingan pengembangan kawasan tersebut. Akses Kasongan secara administratif berada di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta atau berjarak kurang lebih 7 km ke arah selatan Kota Yogyakarta. Sangat mudah untuk mengunjungi Kasongan. Dari Jalan Bantul terus ke selatan sampai bertemu gerbang Kasongan berupa gapura besar yang diapit dua patung kuda. Di sepanjang jalan, akan banyak ditemukan showroom-showroom yang memamerkan beragam hasil kerajinan dari gerabah, seperti keramik guci, pot bunga, terra cotta, air mancur, patung Buddha dan kerajinan gerabah lainnya. Sejarah Sejarah Kasongan bermula dari matinya seekor kuda milik reserse Belanda di tanah milik seorang warga, karena takut dijatuhi hukuman oleh Belanda yang saat itu tengah menjajah Indonesia, ia pun merelakan kepemilikan hak tanahnya dan aksinya itu diikuti oleh beberapa warga yang juga merelakan kepemilikan hak tanah mereka. Pada akhirnya, sejumlah tanah tersebut diambil alih oleh warga desa lain. Penduduk lain yang tidak memiliki tanah akhirnya memulai kegiatan baru yaitu mengolah tanah liat menjadi mainan dan peralatan dapur. Destinasi Kasongan Kasongan merupakan suatu sentra industri kerajinan gerabah/keramik yang saat ini sudah merupakan asset daerah, dengan pangsa pasar telah merambah ke pasar eksport. Kasongan merupakan desa wisata, tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestic, tetapi juga wisatawan mancanegara. Sebagai kawasan wisata kerajinan tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai bagi kepentingan pengembangan kawasan tersebut. Lokasi Kasongan secara administratif berada di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta atau berjarak kurang lebih 7 km ke arah selatan Kota Yogyakarta. Sangat mudah untuk mengunjungi Kasongan. Dari Jalan Bantul terus ke selatan sampai bertemu gerbang Kasongan berupa gapura besar yang diapit dua patung kuda. Fasilitas Kasongan terus berkembang dari waktu ke waktu. Desa wisata ini telah menarik minat banyak wisatawan. Fasilitas yang ditawarkan pun beragam, diantaranya area parkir, mushola, toilet, penginapan, tempat makan, tempat oleh-oleh dan tempat belajar/edukasi kerajinan gerabah. Jam Buka Desa Wisata Kasongan buka mulai pukul – dan buka setiap hari. Apabila datang kesini saat sore hari, biasanya anda dapat belajar membuat kerajinan gerabah dengan santai tanpa harus memikirkan pengunjung lain yang baru datang. Selain itu, anda juga bisa belanja gerabah sepuasnya dengan harga yang dipatok murah karena anda membeli langsung dari produsennya. Harga Tiket Berbicara harga tiket, Desa Wisata Kasongan tidak menarik harga tiket kepada wisatawan jika dating kesini. Apabila datang ke tempat ini, anda hanya dikenakan biaya parkir sebesar hingga saja. Namun jika Anda ingin ikut belajar membuat gerabah sendiri, Anda akan dikenakan biaya sebesar saja. Hasil gerabah yang Anda buat pun bisa dibawa pulang. Jadiiii…. Anda dapat belajar dan membawa hasil karya anda sendiri ke rumah. W O W sekali kannn.. Binakarya Homestay, Tempat Favorit Makrab Mahasiswa Jogja Tempat makrab di Jogja sudah banyak bahkan tak terhitung jumlahnya, disini kami akan memberikan informasi bagi sobat mahasiswa jogja yang ingin mengadakan acara makrab dengan fasilitas lengkap dan harga terjangkau, dan lokasi tidak terlalu jauh dengan kota Yogyakarta. Binakarya Homestay adalah merupakan sebuah homestay yang terletak di Dusun Ngelosari Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul […] Baca Selengkapnya.. Puspita Batik Indigo Dewisaba Salah satu produk unggulan pariwisata Dewisaba adalah atraksi di Puspita Batik Indigo. Kita bahas satu persatu. Indigo merupakan zat warna biru yang didapatkan dari tanaman yang dengan nama latin Indigofera sp. Pada masa penjajahan, indigo merupakan salah satu komoditi ekspor penting pemerintah Hindia Belanda selain kopi, tebu, teh dan rempah-rempah. Kebijakan “cultuurstelsel” diimplementasikan oleh Gubernur Jendral […] Baca Selengkapnya.. Taman Jogo Bendung Di Desa Wisata Bendo ada Taman Jogo Bendung. Terdapat Taman Kuliner yang Menyediakan berbagai menu masakan Bubur Sore,Nasi Rames,Soto,Mie Ayam,Nasi Goreng,Bakmi Goreng dll Selain Kulineran juga bisa untuk Wisata Sepeda yang Rute nya dekat dengan lokasi Wisata yang lain. Diantaranya Embung Imogiri 1,Makam Seniman,Makam Raja Imogiri, joglo Opak,Bakso Tumpeng Dll Related posts No related posts. Baca Selengkapnya.. Gerabah Kasongan Yogyakarta Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta. Memasuki kampung Kasongan, di halaman-halaman rumah dan pekarangan warga dengan mudah akan terlihat produk gerabah berbagai bentuk dan ukuran. Baik yang masih alami berwarna merah bata, ataupun yang telah dilakukan finishing dengan pengecatan beraneka warna atau teknik finishing lain. Di sudut-sudut kampung akan terlihat pula tungku-tungku pembakaran. Jika tertarik, wisatawan dapat pula turut membentuk tanah liat menjadi gerabah bersama para perajin. Desa Wisata Kasongan terletak di Dukuh Kajen, Banguntapan, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Di dukuh seluas 49 hektar berpenduduk jiwa tersebut, 95% warganya bermata pencaharian sebagai perajin gerabah, sedangkan sisanya petani dan Pegawai Negeri. Pembuatan gerabah di Kasongan memang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi terdahulu hingga kini. MULANYA PRODUK PERKAKAS RUMAH TANGGA Pada mulanya, gerabah yang diproduksi warga Kasongan hanya berupa perkakas rumah tangga seperti kwali, cobek, anglo, keren tungku untuk memasak dengan kayu bakar, dan perkakas lain. Namun hasil pemninaan dari waktu ke waktu, variasi produk gerabah pun berkembang hingga ke gerabah-gerabah hias seperti guci, berbagai patung, meja kursi, dan berbagai hiasan lain. “Kerajinan gerabah telah turun-temurun digeluti warga. Kemudian mulai berkembang setelah ada arahan dari para tokoh seniman dan para pendamping maka terjadi perkembangan missal dalam hal desainnya,” kata Kepala Dukuh Kajen, Muh. Hadi Suprojo. Kerajinan gerabah di Kasongan mulai berkembang setelah dibangunya jembatan di sisi timur kampung pada 1972, sehingga bisa menghubungkan ke kota Bantul dan daerah lain. “Sebelum tahun 72 susah karena belum ada jembatan. Untuk menjual gerabah harus menyeberang sungai. Dulu hanya dijual di pasar-pasar tradisional sekitar. SEJARAH Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain. Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin gerabah. Perkembangan Produk Pada awalnya keramik ini tidak memiliki corak desain sama sekali. Namun legenda matinya seekor kuda telah menginspirasi para pengrajin untuk memunculkan motif kuda pada banyak produk, terutama kuda-kuda pengangkut gerabah atau genteng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, selain juga motif katak, ayam jago dan gajah. Perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh modern dan budaya luar melalui berbagai media telah membawa perubahan di Kasongan. Setelah kawasan Kasongan pertama kali diperkenalkan oleh Sapto Hudoyo sekitar 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil serta dalam skala besar dikomersilkan oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an, kini wisatawan dapat menjumpai berbagai aneka motif pada keramik. Bahkan wisatawan dapat memesan jenis motif menurut keinginannya. Kerajinan gerabah yang dijual di desa Kasongan bervariasi, mulai dari barang-barang ukuran kecil untuk souvenir hingga hiasan, pot untuk tanaman, interior meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya. Dewasa ini di kawasan Kasongan terlihat galeri-galeri keramik di sepanjang jalan yang menjual berbagai barang hiasan dan souvenir. Bentuk dan fungsinya pun sudah beraneka ragam, mulai dari asbak rokok kecil atau pot dan vas bunga yang berukuran besar, Barang hias pun tidak hanya yang memiliki fungsi, tetapi juga barang-barang hiasan dekorasi serta souvenir perkawinan. Salah satu produk yang cukup terkenal adalah sepasang patung pengantin dalam posisi duduk berdampingan. Patung ini dikenal dengan nama Loro Blonyo. Patung ini diadopsi dari sepasang patung pengantin milik Kraton Yogyakarta.

selain sebagai sentra industri gerabah kasongan juga merupakan salah satu